Rabu, 31 Oktober 2018

Membangun Karakter Siswa di Era Milenial

MEMBANGUN KARAKTER SISWA DI ERA MILENIAL
Tumbuh dan berkembang di era perkembangan teknologi dan komunikasi tentu saja menjadikan anak-anak muda ini mengalami transformasi karakter, gaya hidup, dan identitas diri yang unik. Pew Research Center menyebutkan bahwa ada karakter yang sangat mencolok dari generasi millinneal jika dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya, yakni kehidupan mereka yang tidak dapat dilepaskan dari penggunaan teknologi dan budaya pop. Itulah yang terjadi pada anak di zaman sekarang ini, yakni bisa disebut zaman milenial. Perkembangan teknologi dan informasi dianggap menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan generasi millinneal. Bahkan, bisa dikatakan alat-alat high technology telah menjadi bagian pokok dari kehidupannya. Misal saja, banyak kita temui dimana seseorang yang akan berpergian dan kemudian lupa membawa HP, kira-kira apa yang akan mereka lakukan? Tentu saja, banyak yang akan kembali untuk mengambil HP tersebut. Adapula, seseorang yang kemudian ‘galau’ jika tidak update status di sosial media, dan tentu saja masih banyak contoh lainnya.
Tidak sebatas itu, generasi millinneal juga kebanyakan menggandalkan kecepatan yang serba instan, sehingga real time menjadi prasyarat utama bagi generasi ini. Bukan tanpa masalah, jika ini terus menerus terjadi maka yang akan terjadi adalah banyak anak muda yang cuek terhadap kehidupan sosial. Bahkan, hal ini akan bertendensi pada pembentukan karakter anak yang kurang menyukai komunikasi verbal langsung, bersikap individualis dan egosentris, ingin hasil yang instan, serba mudah, serta tidak mampu menghargai proses. Siswa yang hidup di era millenial menghabiskan 6,5 jam setiap hari untuk membaca media cetak, elektronik, digital, broadcast dan berita. Mereka mendengarkan dan merekam musik; melihat, membuat, dan mempublikasikan konten Internet serta tidak ketinggalan menggunakan smartphone. Orang-orang muda pada era kekinian ini memiliki berbagai macam karakteristik. Mereka suka memegang kendali, tidak mau terikat dengan jadwal tambahan, dan mereka tidak terlalu suka duduk di ruang kelas untuk belajar atau di kantor untuk bekerja. Sebaliknya, mereka lebih suka menggunakan teknologi untuk belajar kapan saja, siang, atau malam, melakukan telekomunikasi dari mana saja dan mendefinisikan "keseimbangan" dengan cara masing-masing.Selain itu, di lingkungan berbasis proyek, generasi millenium menggunakan teknologi untuk menyelesaikan tugas dengan cara baru dan kreatif. Kebutuhan mereka akan metode alternatif untuk menyelesaikan tugas menghadirkan tantangan ketika menggunakan pengukuran tradisional untuk menentukan produktivitas. Mereka juga berorientasi pada kelompok dan sosial. Tanpa henti terekspose ke dunia melalui media, generasi milennial terus-menerus menjalin hubungan sosial. Secara pribadi, mereka melakukan perjalanan berkelompok, belanja,dan bermain bersama. Secara online, mereka mencari peluang untuk mengidentifikasi teman-teman dalam skala yang lebih kecil, bergabung dengan komunitas, dan bergaul dengan rekan-rekan di seluruh dunia. Sisi positifnya, generasi millenial telah diajarkan untuk toleran. Mereka tidak dibatasi oleh informasi yang tersedia di perpustakaan lokal atau oleh pencarian linear dalam ensiklopedi. Sebaliknya, mereka menggunakan Internet untuk mencari informasi di seluruh dunia dan menggunakan tautan hypertext untuk belajar tentang subjek baru. Mereka juga berpengalaman menggunakan teknologi digital. Generasi milenial adalah yang pertama dikelilingi oleh media digital. ICT selalu menjadi bagian dari kehidupan mereka, dan karena akses ini, generasi millenial secara alami tertarik padanya. Melihat kondisi demikian memang tidak serta merta perkembangan generasi millinneal identik dengan sifat karakteristik negative. Sifatnya yang multifaset memang menjadikan sebagian orang berbeda-beda dalam merespon perkembangan generasi millennial.Dengan begitu, kita memerlukan pendidikan karakter bagi siswa atau anak pada zaman milenial ini apalagi dengan semakin berkembangnya Media Internet, Pada dewasa ini banyaknya fenomena-fenomena yang terjadi seperti maraknya budaya global (global culture) dan gaya hidup (lifestyle). Fenomena ini terjadi sebagai dampak dari arus globalisasi yang semakin cepat berkembang. Globalisasi yang sering dimaknai sebagai proses mendunianya sistem sosial, ekonomi, politik, dan budaya melalui teknologi yang semakin canggih sehingga dunia seperti menjadi tanpa batas. Berkembangnya teknologi beriringan pula dengan berkembangnya media internet. Selain munculnya fenomena-fenomena budaya global dan gaya hidup dampak dari era globalisasi yaitu munculnya fenomana generasi millennial.
Berkembangnya teknologi dan media internet tidak hanya memberikan dampak positif bagi generasi millennial, hal ini dapat juga memberikan dampak negatif bagi penggunannya.  Tidak sedikit dari pengguna internet yang menyalahgunakan media internet seperti, membuka konten porno dengan leluasa, dengan sesuka hati menjelekan orang lain dimedia social (tindakan bullying), menyebarkan hoax dan ujaran kebencian, melakukan kejahatan seperti penipuan, penyadapan dan lain sebagainya. Serentak dengan perubahan dan berkembangnya media internet yang terjadi dalam masyarakat akan memberikan pula dampak yang sangat jelas dalam kepribadian setiap manusia. Terjadi perubahan sikap terhadap nilai-nilai yang sudah ada, sehingga terjadi pula pergeseran sistem nilai yang membawa perubahan dalam hubungan interaksi manusia dengan masyarakatnya. Selain itu kemerosotan moral juga banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial-budaya dalam lingkungan masyarakat sekitarnya. Banyak  Lingkungan sosial yang buruk adalah bentuk dari kurangnya pranata sosial dalam mengendalikan perubahan sosial yang negatif.
Peningkatan pendidikan karakter dapat dijadikan dasar dan perisai atau pengendali bagi generasi millennial dalam menghadapi perkembangan di era yang serba canggih atau era globalisasi. Sebagai generasi millennial perlu menyadari pula betapa pentingnya pendidikan karakter sebagai sarana pembentuk perilaku dan kepribadian dalam berprilaku di media internet dan dikehidupan sehari-hari. Dalam hal ini tidak hanya lingkungan sekolah yang menjadi pusat pembelajaran dari pendidikan karakter namun keluarga, lingkungan sekitar, masyarakat dan pemerintah pula ikut berperan aktif dalam mendukung hal tersebut, sehingga terbentuklah generasi millennial yang berkarakter baik dan unggul yang berdasarkan nilai-nilai luhur bangsa dan agama. Berdasarkan hal yang telah disebutkan diatas maka penidikan karaktr di sekolah harus dihadirkan oleh para pendidik zaman sekarang. Martin luther king menyebutkan bahwa kecerdasan yang berkarakter merupakan tujuan akhir dari proses pendidikan yang sebenarnya.[2] Hal ini didasarai pengertian bahwa karakter ini mengendalikan tingkah laku dan pikiran kita yang tentu saja akan menentukan seberapa sukses kita, menentukan bagaimana kita menjalani hidup, dan juga menentukan bagaimana kita menghadapi dan menyelesaikan masalah. Pendidikan karakter melalui sekolah tidak hanya berfokus pada pembelajaran saja, tetapi meliputi penanaman moral, nilai-nilai etika, estetika,dan budi pekerti yang luhur.Pendidikan karakter tidak akan tampak hasil nyatanya jika ia ada hanya sebatas tentang proses pemahaman karakter tanpa adanya tindakan. Konsep karakter menurut saya tidak cukup jika hanya dijadikan satu poin dalam silabus dan pelaksanaan pembelajaran di sekolah melainkan harus dijalankan dan dipraktikan. Pelaksanaan pendidkan karakter dimulai dengan pemahaman yang sama diantara stakeholders  setelah itu barulah dapat di sisipkan dalam kegiatan-kegiatan seperti integrasi dalam silabus dan rencana program pembelajaran, juga bisa melalui kegiatan rutin, kegiatan esktrakurikuler serta kegiatan bimbingan konseling yang berkelanjutan.

SUMBER PUSTAKA

https://firadwi-blogger.blogspot.com/2018/06/pentingnya-pendidikan-karakter-bagi.html?m=1 diakses pada 13 juni 2018
https://news.okezone.com/amp/2018/05/02/337/1893518/tantangan-mengajar-generasi-millenial diakses pada 02 Mei 2018
https://www.gurumuda.id/2017/04/guru-karakter-dan-tantangan-generasi-millenial.html?m=1 diakses pada 30 April 2017
https://katamh.wordpress.com/2017/12/22/pendidikan-karakter-bagi-anak-millennial/amp/ diakses pada 22 Desember